عن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ
النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – : (( مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَا
لعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
)) رواه البخاري
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:”Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dan
perbuatan dusta, maka (sesungguhnya) Allah tidak membutuhkan dia
meniggalkan makan dan minum.”(HR.Al-Bukhari)
Dalam riwayat lain ada tambahan redaksi wa al-Jahla
(kebodohan), kemudian dalam riwayat lain pula disebutkan bahwasnaya
Puasa adalah perisai selama tidak dicampuri dengan kebohongan dan ghibah.
Dari hadits di atas Rasulullah SAW
hendak menerangkan bahwa salah satu tujuan puasa adalah untuk mendidik
dan membina akhlak seorang muslim. Secara khusus hendaknya seorang
muslim ketika berpuasa agar menjaga diri dari perkataan bohong dan
perbuatan dusta, buhtaan (tuduhan keji tanpa dasar), ghibah, dan syahadah zuur (kesaksian palsu) selama bulan Ramadhan.
Kata zuur secara bahasa artinya mail (melenceng), mailun ‘anil haq, melenceng dari kebenaran. Dapat dipahami secara sederhana bahwa perkataan dan perbuatan zuur
adalah perkataan dan perbuatan yang melenceng dari kebenaran, ini
didukung dengan salah satu riwayat lain yang sama dengan tambahan
redaksi “wal jahla” – dan kebodohan. Ada keterkatian antara
melenceng dari kebenaran dan kebodohan. Perkataan dan perbuatan dusta
sering terjadi bebarengan dengan kebodohan dan/atau dengan tindakan
bodoh, yang didasari oleh kebodohan dirinya.
Puasa itu untuk Allah, dan Allah sendiri yang akan membalasnya
…إلا الصيام فإنه لى، وأنا أجزى به ….
(….kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalas ganjarannya….)
Perlu direnungkan bersama bahwa tujuan
dan maksud Allah mewajibkan puasa kepada hamba-hambaNya adalah bukan
hanya untuk sekedar meninggalkan makan, minum, dan syahwat saja. Allah
SWT hendak menyampaikan bahwa melalui puasa Ia mendidik dan mengajari
seorang mukmin beberapa makna, hikmah dan pelajaran yang akan
menunjukkan dan membawa seorang mukmin menjadi pribadi yang baik,
berakhlak mulia, dan beradab, baik terhadap sesama muslim maupun
terhadap Allah SWT. Dan diantara ciri seorang mukmin yang beradab dan
berakhlak mulia adalah ia tidak berkata dusta dan berbuat dusta. Jadi
jika seseorang tidak mau meninggalkan qoulazzuur wal ‘amal bizzuur
selama ia berpuasa maka ia tidak mendapat faedah dari amal ibadah agung
tersebut. Wal ‘iyadzu billah….
Namun, jika ada seseorang muslim berapologi dan mengakatan bahwa ia
tidak bisa meninggalkan perbuatan dan perkataan dusta kemudian dia tidak
mau berpuasa, maka alasan ini tidak dibenarkan dan merupakan perbuatan
dosa, bahkan menurut Imam Syafi’i ini merupakan dosa besar yang tidak
dapat ditebus walau dengan puasa sepanjang tahun. Dosa besar karena
berpuasa merupakan kewajiban dan ia juga merupakan salah satu rukun
Islam. Terdapat perbedaan yang mendasar antara seseorang berpuasa dengan
atau tanpa mendapat faidah dari puasanya dengan orang yang sengaja
tidak berpuasa karena yang kedua akan mendapat balasan yang pedih atas
keengganan menjalankan kewajibannya.
Bulan ramadhan adalah bulan pendidikan,
bulan latihan dan bulan pembinaan bagi seorang muslim, maka dalam hal
ini seyogyanya seorang muslim mendidik dan membina dirinya agar tidak
berkata dan berbuat dusta selama ia berpuasa. Karena jika seseorang
berpuasa namun masih berbuat demikian, maka ia hanya akan menjalani
bentuk puasa secara dhohirnya saja, dengan kata lain ia tidak
akan mendapat pahala atas puasanya di sisi Allah SWT. Disini dapat
dikatan bahwa indikator diterimanya puasa seseorang adalah ketika ia
mampu mengendalikan dan menjaga dirinya dari perkataan dan perbuatan
dusta. Waallahu a’lam…..
Ma’alim:
- Berdusta baik dalam perkataan dan perbuatan merupakan kejelekan setiaap waktu, namun dianggap lebih jelek ketika bulan Ramadhan walau tidak membatalkan puasa.
- Tanda diterimanya puasa seseorang adalah ketika ia bisa menjaga diri dari perkataan dan perbuatan dusta
- Jangan sampai nilai puasa kita berkurang karena dusta dan tindakan bodoh.